Cari Berita

Newsletter image

Berlangganan Newsletter

Bergabung dengan pembaca lainnya untuk mendapatkan notifikasi berita terbaru.

Kami tidak mengirim spam!

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookie untuk memastikan pengalaman terbaik di situs kami.

Peradaban Dunia Dibingkai dalam Muktamar Nasional Ke-1 NAAT di Temboro: Rekonsiliasi Sejarah Walisongo Resmi Digelar

MAGETAN II NAAT -- Sebuah momentum bersejarah bagi pelestarian silsilah dan peradaban Islam Nusantara dipastikan akan segera dilaksanakan. Muktamar Nasional Ke-1 Naqobah Ansab Auliya’ Tis’ah (NAAT) Indonesia secara resmi dijadwalkan untuk diselenggarakan pada Sabtu s.d. Minggu, 15-16 Februari 2025. Perhelatan akbar yang mengusung tema “Merajut Persaudaraan, Meneguhkan Persatuan, dan Membingkai Peradaban” ini dipusatkan di Pondok Pesantren “AL-FATAH” Temboro, Magetan, Jawa Timur.

Pemilihan lokasi di Magetan diakui oleh pihak penyelenggara telah melalui pertimbangan yang mendalam. Sebagaimana disampaikan oleh Dr. Mohammad Subhan dalam konfirmasinya, pelaksanaan acara ini didukung sepenuhnya oleh seluruh dhurriyah (keturunan) Walisongo, baik yang berada di Indonesia maupun yang tersebar di belahan dunia internasional. Lebih khusus dari Pengasuh PP. Al-Fatah Temboro ini yang luar biasa, kami mengucapkan terima kasih. Partisipasi aktif dari berbagai elemen, mulai dari tokoh ulama, budayawan, sejarawan, hingga pemerintah setempat, diharapkan dapat menjadi energi khusus demi kesuksesan acara tersebut secara maksimal.

Seminar Internasional dan Pembicara Lintas Negara

Dalam rangkaian Muktamar ini, agenda besar berupa International Seminar on Walisongo History and Genealogy in Indonesia juga turut dilaksanakan. Dengan tema “Strengthening Humanist Islamic Values for World Civilization”, seminar ini dihadiri oleh pembicara-pembicara otoritatif tingkat dunia. Di antaranya adalah Sayyid Ali Abbas Al-Jilani (Naqib Naqobah Asyraf Pakistan), Maulay Abdussalam (Naqobah Munsib Al-Saadah Al Asyaraf Kerajaan Maroko), serta Mr. Li Feng (Presiden Cheng Ho Cultural Museum Malaka). Selain tokoh internasional, forum ini juga diisi oleh Nara Sumber dari Asia Tenggara hadir diacara tersebut Bunda Tun Suzana, jajaran ulama Syekh Rahimudin Bekasi, sejarawan, dan budayawan nasional lainnya.

Kehadiran para pakar lintas negara ini dimaksudkan untuk memunculkan benang merah yang kokoh terkait silaturahmi, toleransi, serta keselarasan data kesejarahan. Naskah agama dan kebudayaan yang akan dibahas diharapkan dapat dijadikan rujukan valid bagi seluruh keturunan Walisongo seantero jagad.

Konsolidasi Organisasi dan Rekomendasi Akademik

Muktamar ini juga menjadi ajang permusyawaratan tertinggi perdana bagi NAAT. Seluruh pengurus dari berbagai tingkatan dipastikan hadir, meliputi Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, hingga Kalimantan. Selain itu, puluhan Dewan Pengurus Cabang (DPC) dari wilayah tapal kuda Jawa Timur, Pekalongan, Kudus, hingga Pontianak dan Samarinda turut serta dalam menyukseskan agenda ini.

Abid Musyafak, Ketua DPC NAAT Kabupaten Ngawi, menegaskan bahwa dukungan terhadap kajian sejarah Islam yang mendalam menjadi prioritas dalam forum ini. Diharapkan, sinergi yang kuat antara akademisi, ulama, dan sejarawan dapat tercipta dalam melestarikan nilai-nilai Islam berbasis humanisme.

Beberapa poin krusial yang akan dibahas dan diputuskan dalam Muktamar ini meliputi:

  1. Pemberian rekomendasi solutif atas persoalan keagamaan dan kehidupan berbangsa.
  2. Pemilihan serta penetapan Dewan Pengurus Pusat (DPP) NAAT untuk Masa Bakti 2025-2030.
  3. Pelaksanaan joint standing research (penelitian bersama) antara tim NAAT Indonesia dengan Naqobah Al-Saadah Al Asyaraf Kerajaan Maroko.

Kegiatan ini secara penuh didukung oleh berbagai pemangku kepentingan (stakeholders), instansi pemerintah, perguruan tinggi, hingga perusahaan swasta. Dengan diselenggarakannya Muktamar ke-1 ini, sebuah langkah besar untuk mendokumentasikan peran Walisongo dalam penyebaran Islam di Nusantara secara ilmiah dan teologis resmi dimulai dari bumi Magetan. Deklarasi hasil muktamar nantinya akan dijadikan rekomendasi akademik bagi pengembangan studi sejarah Islam di masa depan. (AHID & JOYO)

Artikel Selanjutnya
Minus qui perferendis fuga autem quis quia corporis.

Berita Terkait: